Jumat, 20 Mei 2016

Obyek Wisata Guci Tegal Jateng

Asal Mula Nama Guci
Mungkin kalau dari nama, kita beranggapan, guci adalah sebuah pot yang indah dan membuat orang tertarik melihatnya. Tapi ternyata Guci disini yang dibahas adalah nama sebuah objek wisata di daerah Tegal dan sangat terkenal. Objek wisata Guci ini adalah sebuah objek wisata air panas, yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan konon membuat awet muda.
Kepercayaan ini berawal dari sebuah cerita adanya suatu Pedukuhan yang bernama Kaputihan yang berarti putih belum tercemar atau masih suci belum tercemar oleh agama dan peradaban lain.
Istilah Kaputihan pertama kali yang memperkenalkan adalah Beliau yang di kenal dengan Kyai Ageng Klitik (Kyai Klitik) yang nama sesungguhnya adalah Raden Mas Arya Wiryo cucu Raden Patah Bangsawan dari Keraton Mataram Ngayogjokarto Hadiningrat asal dari Demak. Setelah beliau Kyai Klitik menetap lama di lereng gunung Slamet (kampung Kaputihan) maka banyak warga berdatangan dari tempat lain sehingga kampung kaputihan menjadi ramai. Suatu ketika datanglah Syech Elang Sutajaya utusan Sunan Gunung Jati (Syeh Syarif Hidayatulloh) dari Pesantren Gunungjati Cirebon untuk Syiar Islam. Dan kebetulan di kampung kaputihan sedang terjadi pageblug (wabah penyakit merajalela banyak terjadi bencana alam dan tanaman di serang hama dll.)
Sehingga Beliau Elang Sutajaya memohon petunjuk kepada Allah SWT dengan semedi kemudian Alloh SWT memberi petunjuk supaya masyarakat kampung Kaputihan meningkatkan Iman dan Taqwanya kepada Alloh SWT dengan menggelar Tasyakuran, memperbanyak sedekah dan yang terkena wabah penyakit agar meminum air dari kendi (guci) yang sudah di do’a kan oleh Sunan Gunungjati.
Mitos Guci
Menurut mitos yang telah beredar selama ratusan tahun, air panas Guci adalah air yang diberikan Walisongo kepada orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Karena air itu ditempatkan di sebuah guci (poci), dan berkhasiat mendatangkan berkat, masyarakat menyebut lokasi pemberian air itu dengan nama Guci.
Tetapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jumat Kliwon, salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Atas izin Tuhan, mengalirlah air panas tanpa belerang yang penuh rahmat ini. Nah, Sampai saat ini, setiap malam Jumat Kliwon, banyak orang datang dan mandi di tempat pemandian air panas ini untuk mendapat berkah. Bagi masyarakat sekitar obyek wisata ini, Guci adalah air hangat yang mengalir deras dari ujungnya, terus-menerus, tanpa henti. Kehangatan airnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
Ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum disebut pancuran 13. Agak jauh sekitar satu kilometer, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor.
Pemandian pancuran 13 adalah lokasi yang paling banyak dikunjungi orang. Disebut begitu karena memiliki pancuran berjumlah 13 (tigabelas) buah. Pemandian ini bisa dinikmati siapa saja alias tidak bayar. Selain itu, berendam di pancuran tujuh merupakan alternative lainnnya. Di pancuran ini, penduduk desa Guci juga sering mandi entah untuk keperluan mencari berkat maupun untuk menyembuhkan penyakit seperti rematik atau penyakit kulit lain.

Sumber: media wisata daerah












Kamis, 19 Mei 2016

Membangun Biduk Rumah Tangga Baru

Menghadiri Acara Pernikahan Teman Di Kampungku
Pernikahan merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa'alihi Wasallam. Beliau bersabda, “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah RA).
Pengertian Sunah menikah adalah untuk orang-orang yang sudah mampu dalam arti siap lahir maupun batin. Hukum menikah bisa menjadi wajib apabila seseorang dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perzinaan jika tidak menikah. Menjadi makruh apabila seseorang tidak mampu menafkahi wanita yang dinikahi dan dikhawatirkan akan menelantarkannya. Menjadi haram apabila tujuan menikah untuk mengeksploitasi dan menyiksa seseorang yang hendak dinikahi.
Sesuai adat dan tradisi yang berlaku di pulau jawa, ketika seseorang hendak menikah, dia akan memberikan undangan kepada orang-orang terdekat, kenalan, sanak-saudara, teman, sahabat, guru dan lain sebagainya. Undangan tersebut adalah untuk merayakan pernikahan dengan acara yang sederhana ataupun serba mewah. Dan yang paling penting adalah memberikan do’a kepada pengantin yang sedang melangsungkan pernikahan.
Adapun pahala-pahala yang bisa didapat ketika menghadiri undangan pernikahan antara lain:
Menghadiri undangan, seseorang yang menghadiri undangan pernikahan mendapat pahala karena hukum menghadiri undangan pernikahan adalah wajib menurut sebagian pendapat ulama'. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang berbunyi,
Artinya, "Jika kalian diundang ke walimah maka datangilah” (HR. Muslim)".
Menyenangkan orang yang memberi undangan. Seseorang yang memenuhi undangan pernikahan akan membuat senang orang yang mengundangnya. Menyenangkan orang lain merupakan sebuah kebaikan dan mendapat pahala. Hal ini sesuai hadits Nabi yang berbunyi,
Artinya “Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)
Berjabat tangan. Seorang yang menghadiri pernikahan dan berjabat tangan dengan shohibul hajah ataupun sesama tamu yang halal untuk dijabat tangannya akan mendapat pahala. Hal ini sesuai sabda Baginda Nabi,
Artinya: “Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan melainkan telah diampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berdua berpisah.”
Membaca Sholawat, di dalam sebuah pernikahan seorang muslim akan ada pembacaan sholawat. Sholawat itu minimal dibaca ketika seseorang berpidato. Sebagai muslim, ketika Nama Baginda Nabi disebut, maka wajib hukumnya membaca sholawat kepadanya.
Shodaqoh, sesuai adat dan tradisi di jawa, seseorang yang menghadiri pernikahan biasa membawa hadiah untuk pengantin. Hal ini bisa bernilai shodaqoh dan mendapat pahala apabila niat memberikannya benar sesuai aturan agama Islam.
Senyum, apabila seseorang yang menghadiri undangan berkenan tersenyum kepada shohibul hajah dan sesama tamu undangan, maka ia akan mendapat pahala. Karena, senyum adalah ibadah.
Menyambung Silaturrahim, dengan menghadiri undangan pernikahan, seseorang bisa menyambung tali silaturrahim dengan pemberi undangan dan dengan sesama tamu yang ditemuinya.
Mendukung kebenaran, Sesuai hadits yang ditulis pada item nomer dua di atas, mendukung kebenaran adalah sebuah kebaikan yang akan mendapat pahala. Pernikahan adalah sebuah kebenaran. Salah satu tujuannya agar terhindar dari kesalahan berzina.
Mendapatkan ilmu, apabila di dalam sebuah acara pernikahan diadakan sebuah ceramah agama, maka seseorang yang menghadiri undangan akan mendapat pahala dengan ilmu yang didapatnya.
Mendo’akan kebaikan, seorang yang menghadiri undangan pernikahan dan mendoakan kebaikan kepada pengantin akan mendapat pahala. Do’a yang umum diberikan misalnya, "Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah".
Itulah sepuluh pahala kebaikan yang bisa diperoleh ketika seseorang menghadiri acara pernikahan. Sebenarnya masih banyak pahala-pahala yang lain. Semoga kita senantiasa mampu menghadiri undangan pernikahan sesuai aturan-aturan yang disyariatkan oleh agama Islam. Amiin.
sumber: media keluarga bahagia




























Obyek Wisata Pemalang Jawa Tengah

Pantai Widuri Pemalang
Pantai Widuri merupakan salah satu obyek wisata kabupaten Pemalang yang sudah cukup dikenal di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura). Terletak di Desa Widuri, kabupaten Pemalang, sekitar 3 kilometer ke arah utara dari Alun-alun Pemalang. Mulanya Pantai ini dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Tlincing. Kemudian dijadikan daerah wisata oleh Pemda Pemalang dan diberi nama Widuri, sesuai dengan nama desa di mana pantai itu berada, kalau di Jakarta Pantai Ancol.
Nama pantai Widuri diambil dari legenda Nyi Widuri. Ia seorang wanita cantik jelita yang hidup di desa tersebut. Jika Anda sedang berada di ibukota kabupaten Pemalang atau tepatnya berada di alun-alun kota maka cobalah anda menghadap utara maka akan terlihat jalan lurus dari depan kabupaten sampai ke pantai Widuri. Konon, menurut legenda Pemalang, jalan lurus tersebut dibuat oleh seorang Patih yang sangat sakti mandraguna. Apabila diperintah, beliau selalu menjawab sampun (sudah terlaksana), kemudian Patih itu dikenal dengan nama Patih Sampun.
Sebenarnya garis pantainya tidak terlalu luas. Jika Anda berencana melewati daerah Pemalang setelah Lebaran dan berniat mampir ke pantai ini, maka bersiaplah untuk terkejut. Pada saat Lebaran, pantai ini akan sangat penuh dengan pengunjung. Begitu padat oleh warga setempat maupun wisatawan. Laut Jawa nan lepas menjadi panorama utamanya.
Pantai Widuri Pemalang menyajikan pesona pemandangan alam nan eksotis namun ekonomis ini banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Nikmatilah ASRInya alam Widuri dengan Duduk di bawah pohon pinggir pantai bersama keluarga, adapun tiket masuk cukup membayar Rp. 5.000,-/kendaraan roda empat.
Pada bulan-bulan tertentu dapat dijumpai pasangan pengantin (lengkap dengan baju kebesarannya) tengah menikmati bulan madu mereka. Konon dengan berekreasi ke Pantai Widuri akan memperkuat jalinan cinta dan kesetiaan mereka.
Bagi sebagian pengunjung, bermain air di pantai merupakan favorit mereka, terutama anak-anak yang tampak begitu asik menikmati bermain air di pantai lepas. Menggunakan pelampung kecil, anak-anak juga bisa berenang di tepian pantai dengan pengawasan orang tua tentunya agar tidak ada kecelakaan.
Selamat Menikmati Wisata Pantai Widuri Bersama Keluarga.

Sumber: media wisata daerah